Minggu, 14 Mei 2017

Katanya Mahaiswa


Mahasiswa merupakan sosok metamorfosa dari siswa. Dalam prosesnya, Ia seperti kupu-kupu, berawal dari ulat yaitu siswa yang mencari ilmu di bangku sekolah. Ulat lahir sudah dalam keadaan yang nikmat, ia diciptakan di atas dedaunan yang mana dedaunan itulah sumber makanannya. Begitupun siswa, ia mendapat asupan ilmu di sekolah, ia mencari bukan menuntut untuk menguasai. Setelah ilmu itu dicari, maka proses selanjutnya ia akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Namun ada tahap ia harus “berdiam diri”, berdiam diri disini adalah ia mencari jati diri, bukan sekedar merenung namun memikirkan masa depan. Kepompong ibarat ketika siswa lulus dari SMA, ia benar-benar sedang berjuang mencari jati diri sebenarnya. Berjuang untuk mendapatkan suatu status yaitu “maha”. Dalam perjalanannya, kepompong hampir mirip dalam kehidupan kita setelah SMA, berjuang untuk menjadi indah, menunjukkan gelora kebangkitan dan menerbangkan sayap ke penjuru dunia. Ya, setelah lulus SMA pada umumnya berjuang untuk mendapatkan perguruan tinggi. Di perguruan tinggilah kita menjadi kupu-kupu yang melebarkan sayap untuk menggapai cita-cita.

            Perlu kita ketahui, mencari dan menuntut ilmu merupakan dua hal yang berbeda. Mencari ilmu kita dapatkan di bangku sekolah, di mana sang guru telah memberi ilmu dan kita langsung menerimanya. Berbeda dengan menuntut ilmu, coba kita lihat sejarah terdahulu. Di mana ilmuwan-ilmuwan kita benar-benar berjuang untuk menuntut ilmu, menuntut agar menguasai ilmu dari sang maha guru. Contohlah kisah ulama-ulama terdahulu, mereka dalam mencari ilmu harus pergi menemui sumber ilmunya langsung. Bisa juga kita teladani kisah sahabat dalam mempelajari Al-Qur’an, betapa indahnya kisah sahabat yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan langsung menemui Rasulullah SAW. Bedanya kita dengan sahabat Nabi Muhammad SAW adalah sahabat mempelajari ilmu Al-Qur’an hingga hafal bacaannya, lalu memahami dan diamalkan. Selanjutnya, baru mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an lainnya. Sedangkan kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan sering kali lupa untuk diamalkan. Itulah yang membuat menuntut ilmu adalah hal yang perlu kita tanamkan dalam diri kita, menuntut untuk menguasai dan mengamalkannya.

            Dalam istilah umum, maha adalah strata tertinggi dalam sebuah kehidupan. Maka dapat dipastikan tempat mengemban ilmunya pun berbeda dengan siswa. Maha merupakan status yang tak sembarang orang bisa memakainya. Dalam kehidupan, selain tuhan yang mempunyai gelar “Maha” hanya siswa yang memiliki gelar “Maha”, tidak ada gelar “maha” yang diberikan selain kepada siswa. Begitu mulianya seorang siswa mendapatkan gelar “maha”. Namun, dalam praktiknya jarang sekali gelar “maha” ini digunakan dengan optimal. Sering kita lihat fenomena dimana mahasiswa zaman sekarang terlihat hanya pulang pergi, kuliah-rapat dan kesibukkan organisasinya tanpa menitikberatkan kegiatan keilmuannya. Padahal dahulu kala, terciptanya ilmuan itu karena ketika ilmuan menjadi mahasiswa, ia menggunakan gelar “maha” secara optimal dengan menuntut untuk menguasai ilmu dan melahirkan temuan-temuan baru.

            Lahirnya mahasiswa tercipta lantaran siswa yang jujur dan berani. Betapa luar biasanya siswa yang mengindahkan kelulusannya dengan menyertai kejujuran di setiap langkah perjuangannya. Berkahnya buah kejujuran akan menuai keberhasilan dan limpahan kejujuran akan mencipta insan-insan mulia. Betapa indahnya mahasiswa yang jujur dan berani, berani mengungkapkan opini dan jujur dalam setiap langkah perbuatan. Produktifitas mahasiswa akan tercipta jika ia memulai dari jujur terhadap dirinya sendiri. Jujur akan diri ini masih jauh dari nikmat tuhan, jujur akan diri ini belum sepenuhnya dekat dengan-Nya.

            Ketika kita berbicara tentang “Maha”, sontak kita melihat sebuah keagungan dari kata tersebut, dimana hanya sedikit orang yang memaknainya dan mendapatkannya. Perjuangan menjadi ujung tombak untuk mendapatkan gelar “maha”, hebatnya lagi pengorbanan untuk mendapatkan gelar “maha” itu benar-benar bukan pengorbanan biasa. Mulai dari harta, waktu, dan tenaga serta pikiran yang selalu terkuras untuk mendapatkan gelar “maha”. Dan benar kata kebanyakan orang, mahasiswa itu dimulai dengan pengorbanan.

            Pergilah seorang siswa untuk merantau ke dunia berbeda, mencari gelar “maha” untuk perubahan yang mendunia. Ketika kita pergi lantas banyak yang kita tinggalkan. Ketika air mata berlinang lantas kenangan pula bermunculan. Pengorbanan adalah bentuk awal perjuangan. Pergi bukan berarti meninggalkan selamanya, sejatinya perginya seorang siswa dari gelarnya adalah untuk memberi kebermanfaatan yang lebih nyata. Ketika kamu pergi dari gelarmu itu, tengoklah sesekali ke belakang, lihatlah perjuanganmu terdahulu. Indah bukan?

            Mahasiswa tak hanya belajar, ia juga mengabdi. Mahasiswa tak hanya bermimpi, ia juga berkreasi. Mahasiswa tak hanya beropini, ia juga beraksi. Dan mahasiswa sejatinya bangga akan diri, karena gelarmu itu bukan berbicara tentang rutinitas biasa. Namun, berbicara tentang perjuangan pembela keadilan. Menebar manfaat dan mencegah kemungkaran. Indahnya perjuangan bukan karena mahasiswa sembarangan, indahnya perjuangan karena mahasiswa yang memiliki visi dan tujuan yang jelas. Menatap langit, menyongsong matahari, menggenggam dunia. Mimpi itu jadi nyata! Jadilah mahasiswa dengan segala ke-maha-annya.

            Harapan itu baru saja tercipta, kamu akan terbina suatu saat menjadi mahasiswa pemberani, mahasiswa berprestasi dan mahasiswa pengabdi negeri. Ingat tugas mahasiswa itu tidak hanya duduk diam mendengarkan, tapi juga berdiri tegak meneggakan keadilan. Menjunjung tinggi nilai perjuangan, perdamaian dan persatuan. Dan menjadi mahasiswa bukan mahasiswa sembarangan, perlu visi misi yang jelas dan ketika kamu menjadi siswa tentu kamu memiliki target yang jelas bahkan rinci untuk mencapai gelar “Mahasiswa”, maka kencangkanlah tekadmu, ukir targetmu dan laksanakan. Begitulah semangat mahasiswa, berkobar dan membara!

Penulis : Abdurrauf
Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Our Reach

Our Reach

Our Donors

Our Donors