Ditulis oleh : Muhammad Luthfi Febrian
“Ah, rakyat desa juga nggak pakai dollar.”
Kalimat itu belakangan ramai diperbincangkan setelah pernyataan Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Di satu sisi, pernyataan tersebut dianggap ingin menekankan bahwa ekonomi rakyat kecil tidak sepenuhnya bergantung pada mata uang asing. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: benarkah kenaikan dollar tidak berdampak pada kehidupan masyarakat biasa?
Faktanya, dampak pelemahan rupiah justru sering kali paling terasa bagi masyarakat kecil. Bukan karena mereka menyimpan dollar atau bertransaksi langsung menggunakan mata uang asing, melainkan karena kehidupan sehari-hari mereka tetap terhubung dengan sistem ekonomi global.
Harga sembako naik, pupuk semakin mahal, biaya transportasi meningkat, hingga harga barang elektronik ikut melonjak. Semua itu bisa terjadi ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar.
Masalahnya, banyak orang mengira isu kurs hanya urusan investor, pebisnis besar, atau orang yang suka liburan ke luar negeri. Padahal kenyataannya, naik turunnya dollar bisa memengaruhi isi dompet hampir semua lapisan masyarakat.
Kenapa Dollar Bisa Sangat Berpengaruh?
Dollar Amerika Serikat masih menjadi mata uang utama dunia. Banyak transaksi internasional, termasuk perdagangan minyak, bahan baku industri, hingga pembayaran utang luar negeri menggunakan dollar.
Ketika nilai dollar menguat, Indonesia membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang dari luar negeri. Akibatnya, biaya impor meningkat.
Padahal Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan penting seperti:
gandum,
kedelai,
alat kesehatan,
bahan baku industri,
elektronik,
hingga beberapa kebutuhan energi.
Ketika biaya impor naik, pelaku usaha akan menyesuaikan harga jual barang di dalam negeri. Efek akhirnya tetap kembali ke masyarakat sebagai konsumen.
Karena itu, meskipun masyarakat desa tidak memegang dollar secara langsung, mereka tetap bisa terkena dampaknya melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Kenapa Rupiah Bisa Melemah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah melemah, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, tingginya impor, hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
Tekanan terhadap rupiah meningkat akibat penguatan dollar global dan ketidakpastian ekonomi dunia. Selain itu, bahwa suku bunga, ekspor-impor, dan arus modal asing juga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah. Ketika investor lebih memilih menyimpan uangnya dalam dollar, permintaan terhadap dollar meningkat dan rupiah semakin tertekan.
Langkah yang Perlu Dilakukan Pemerintah
Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas rupiah, seperti intervensi pasar oleh Bank Indonesia, menaikkan suku bunga acuan, hingga membatasi impor tertentu. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki tantangan. Kenaikan suku bunga misalnya, dapat menahan pelemahan rupiah tetapi sekaligus membuat biaya pinjaman dan aktivitas ekonomi menjadi lebih berat.
Karena itu, pemerintah tidak bisa hanya fokus pada kebijakan jangka pendek. Memperkuat produksi dalam negeri dan meningkatkan daya saing ekspor juga menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional. Ketika ekspor meningkat, devisa negara ikut bertambah dan tekanan terhadap rupiah dapat berkurang. Selain itu, penguatan industri lokal juga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang impor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain kebijakan ekonomi, komunikasi publik pemerintah juga perlu diperhatikan. Pernyataan pejabat publik, terutama presiden, dapat memengaruhi sentimen masyarakat dan pasar. Karena itu, komunikasi yang disampaikan sebaiknya lebih menenangkan, konsisten, dan tidak menimbulkan kepanikan maupun kontroversi di tengah kondisi ekonomi yang sensitif.
Referensi
Manihuruk, F. E., Silfani, D., Feby, Y., & Marbun, J. (2023). Analisis Pengaruh Ekspor, Impor, dan Jumlah Uang Beredar di Indonesia terhadap Kurs Rupiah/USD. Jurnal Riset Ilmu Ekonomi, 3(2), 118–129. https://doi.org/10.23969/jrie.v3i2.70
Fahmi, A. (2019). Pengaruh capital inflow, inflasi, suku bunga, ekspor, dan impor terhadap nilai tukar rupiah. Kinerja: Jurnal Ekonomi dan Manajemen.
Reuters. (2026). Rupiah bears most entrenched since 2022 as Asia FX split widens. Reuters News.
Posting Komentar