Oleh : Salsabila Khaerunisa - Bendahara Departemen Kominfo
Pernah merasa memiliki gangguan psikologis setelah menonton video TikTok beberapa menit? Jika iya, kamu tidak sendirian. Di era digital, informasi tentang kesehatan mental semakin mudah diakses dan menjadi topik yang banyak diperbincangkan, terutama oleh
Generasi Z. Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental memang meningkat, namun tidak semua informasi yang beredar selalu dipahami secara tepat.
TikTok menjadi salah satu platform yang paling berpengaruh dalam menyebarkan konten kesehatan mental. Video singkat dengan judul seperti “5 tanda kamu ADHD”, “Gejala anxiety yang sering tidak disadari”, atau “Trauma yang diam-diam kamu alami” dapat ditonton jutaan kali dalam waktu singkat. Format yang sederhana dan mudah dipahami membuat informasi psikologi semakin dekat dengan masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Di tengah maraknya konten tersebut, muncul fenomena self-diagnosis, yaitu ketika seseorang menyimpulkan dirinya mengalami gangguan psikologis tanpa melalui pemeriksaan profesional. Banyak pengguna merasa dirinya memiliki kondisi tertentu karena menemukan kesamaan antara pengalaman pribadi dan gejala yang dijelaskan dalam video. Padahal, diagnosis psikologis memerlukan proses asesmen yang komprehensif dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan beberapa tanda yang ditemukan di media sosial (Mariyani & Ayriza, 2025).
Ketika TikTok Menjadi Sumber Diagnosis
TikTok memiliki algoritma yang mampu menampilkan konten sesuai minat pengguna. Ketika seseorang menonton video mengenai ADHD atau anxiety hingga selesai, algoritma akan terus menampilkan video serupa. Akibatnya, pengguna terus-menerus menerima informasi yang sama dan dapat mengembangkan keyakinan bahwa dirinya memang memiliki kondisi tersebut.
Menurut penelitian Mariyani dan Ayriza (2025), banyak perempuan Generasi Z melakukan proses identifikasi diri terhadap gangguan psikologis setelah mengonsumsi konten kesehatan mental di media sosial. Mereka merasa pengalaman pribadi yang dialami sesuai dengan gejala yang dijelaskan dalam video sehingga muncul keyakinan bahwa dirinya mengalami gangguan tertentu.
Masalahnya, informasi yang beredar di media sosial sering kali bersifat simplifikasi. Diagnosis psikologis yang sebenarnya kompleks disajikan dalam bentuk daftar gejala sederhana yang mudah dipahami. Padahal, dalam praktik psikologi klinis, diagnosis tidak hanya didasarkan pada satu atau dua gejala saja.
Sebagai contoh, seseorang yang sering lupa mengerjakan tugas belum tentu mengalami ADHD. Kesulitan berkonsentrasi dapat disebabkan oleh stres akademik, kurang tidur, kelelahan, tekanan sosial, maupun faktor lingkungan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan asesmen yang komprehensif untuk membedakan penyebab sebenarnya dari suatu gejala.
Tantangan bagi Psikodiagnostik
Dalam bidang psikodiagnostik, diagnosis merupakan proses ilmiah yang dilakukan melalui berbagai tahapan, seperti wawancara klinis, observasi perilaku, studi dokumentasi, hingga penggunaan alat tes psikologi yang telah terstandarisasi.
Menurut Supratiknya (2022), psikodiagnostik bertujuan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi psikologis individu sehingga keputusan diagnosis dapat dibuat secara akurat. Artinya, diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan persepsi subjektif individu terhadap dirinya sendiri.
Fenomena self-diagnosis menjadi tantangan baru karena banyak individu datang ke psikolog dengan keyakinan bahwa mereka sudah mengetahui diagnosis yang dimiliki. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memunculkan bias konfirmasi. Individu cenderung hanya memperhatikan informasi yang mendukung keyakinannya dan mengabaikan informasi lain yang bertentangan.
Akibatnya, proses asesmen menjadi lebih kompleks karena psikolog perlu membantu klien membedakan antara asumsi pribadi dan hasil evaluasi ilmiah.
Dampak Psikologis Self-Diagnosis
Self-diagnosis tidak selalu berakhir pada kesalahan diagnosis semata. Dalam beberapa kasus, individu justru mengalami peningkatan kecemasan setelah meyakini dirinya memiliki gangguan tertentu.
Ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten kesehatan mental, ia dapat menjadi lebih sensitif terhadap berbagai perubahan emosi yang sebenarnya normal. Perasaan sedih, gugup, atau lelah yang merupakan bagian dari pengalaman manusia sehari-hari mulai dianggap sebagai gejala gangguan psikologis.
Menurut Rizkiyah dan Hidayat (2023), kurangnya pemahaman mengenai proses diagnosis dapat membuat individu salah menafsirkan kondisi emosional yang dialami. Akibatnya, muncul kekhawatiran berlebihan terhadap kesehatan mental dirinya sendiri.
Selain itu, self-diagnosis juga berpotensi menghambat pencarian bantuan profesional yang tepat. Sebagian individu merasa diagnosis yang diperoleh dari media sosial sudah cukup sehingga tidak merasa perlu melakukan konsultasi lebih lanjut.
Pentingnya Literasi Psikologis
Meningkatnya tren self-diagnosis menunjukkan bahwa literasi psikologis masyarakat perlu terus ditingkatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa media sosial dapat menjadi sarana edukasi awal, tetapi bukan alat diagnosis.
Konten kesehatan mental yang beredar di internet seharusnya digunakan sebagai bahan refleksi, bukan sebagai dasar untuk menetapkan diagnosis. Jika seseorang merasa
mengalami gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten.
Psikodiagnostik hadir untuk memastikan bahwa diagnosis dilakukan secara objektif, sistematis, dan berdasarkan bukti ilmiah. Dengan demikian, individu dapat memperoleh pemahaman yang lebih akurat mengenai kondisi psikologisnya sekaligus mendapatkan bantuan yang sesuai.
Fenomena self-diagnosis di TikTok menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah cara Generasi Z memahami kesehatan mental. Meskipun memberikan manfaat dalam meningkatkan kesadaran psikologis, self-diagnosis juga berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi, kecemasan berlebih, dan bias dalam proses asesmen. Oleh karena itu, psikodiagnostik tetap memiliki peran penting sebagai proses ilmiah untuk memastikan diagnosis dilakukan secara akurat dan bertanggung jawab.
Referensi
Mariyani, D., & Ayriza, Y. (2025). Exploring Identity and Emotion: A Phenomenological Study of Self-Diagnosis in Gen Z Women. Jurnal Psikologi Tabularasa.
https://doi.org/10.26905/jpt.v20i2.15948
Rizkiyah, N., & Hidayat, D. R. (2023). Psikoedukasi Bahaya Self-Diagnose di TikTok. Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling.
https://cibangsa.com/index.php/liberosis/article/view/538
Supratiknya, A. (2022). Psikodiagnostik. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Press.
Posting Komentar