Minggu, 18 Juni 2017

Tingkatkan Taqwa, KORIDOR adakan Pesantren Ramadhan


Riuh siswa Sekolah Dasar Islam (SDI) Ruhul Amin sore itu Senin (12/6) ramai menyambut kegiatan Pesantren Ramadhan yang diadakan oleh Ambassador BPJS Ketenagakerjaan Batch 4 dengan Paguyuban Karya Salemba Empat (KSE) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta di SDI Ruhul Amin yang bertempat di Jalan Haji Abdul Gani No. 44 RT 02 RW 01 Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Kegiatan Pesantren Ramadhan dengan tema Bersama Tingkatkan Taqwa ini diadakan selama tiga hari mulai hari Senin hingga Rabu, 12 s.d 14 Juni 2017. Hari pertama dan kedua diisi dengan materi Cinta Allah dan Cinta Rasulullah, sedangkan hari ketiga diisi dengan kegiatan lomba-lomba yaitu lomba mewarnai kaligrafi, hafalan surat pendek, hafalan doa sehari-hari, dan lomba fashion show. Kegiatan ini diikuti sebanyak 43 siswa SDI Ruhul Amin.



Kegiatan ini mendapat respon postif dari pihak sekolah ”Bagus buat anak-anak untuk mengisi waktu luang sebelum berbuka diisi dengan kegiatan yang positif. Karena tahun sebelumnya belum ada, yang biasanya hanya main-main sekarang jadi ada kegiatan” ujar Bu Rini salah satu Guru SDI Ruhul Amin.

“Apalagi kegiatan ini yang mengisi bukan dari gurunya, jadi mereka punya pengalaman baru untuk bertemu dengan orang baru. Dan kami berharap, setelah anak-anak akrab dengan kakak-kakak dari KSE, kolaborasinya terus berjalan. Jadi jika nanti ada kegiatan yang kita bisa dilibatkan, bisa dilibatkan lagi” lanjut bu Rini.

Kegiatan Pesantren Ramadhan ini juga dilanjutkan dengan buka bersama semua beswan KSE UIN Jakarta. Di akhir pertemuan, disampaikan beberapa hal mengenai kegiatan paguyuban selanjutnya serta pengumuman beswan teraktif selama tiga bulan terakhir. Apipudin ketua Paguyuban KSE UIN Jakarta berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ini bisa menjadi salah satu ladang ibadah kita di bulan Ramadhan.

Penulis dan Dokumentator : Ginanjar Ramadhan

Rabu, 31 Mei 2017

KORIDOR Bersama Mencerdaskan Bangsa

“Pendidikan itu penting!” kata sebagian orang.
Biasanya pemikiran ini tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan intelektualitas. Mereka yang menghargai ilmu mau berjuang bukan demi mendapatkan gelar katanya, tapi untuk bertahan hidup. Survive di dunia yang keras ini muncul dari anggapan bahwasannya manusia itu terlahir tidak langsung berhati malaikat, tetapi manusia itu justru cenderung berkonflik dan berkompetisi.
Thomas Hobbes dalam karyanya yang berjudul De Cive (1651) menyatakan, “Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.” Asumsi ini lahir tidak dengan sendirinya bak dongeng Timun Mas yang keluar dari biji mentimun pemberian raksasa Buto Ijo. Hobbes ialah seorang pemikir yang lahir di lingkungan yang sangat mencekam, rendahnya nilai pendidikan, perang sipil, dan kucuran darah kebengisan para pihak yang bertikai seringkali menghiasi warna jalanan Inggris.
Sulit memang, jika kondisi sosial pada saat ini disamakan dengan kondisi sosial pada abad XVII yang lalu. Tapi hal ini tentunya bisa dijadikan bandingan atau bahkan kajian, bahwasannya kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya terpenuhi sejak Perang Dunia ke-1, Perang Dunia ke-2, ataupun Perang Dingin. Kondisi sosial di suatu negara dapat mempengaruhi kondisi sosial di negara lainnya, hingga pada akhirnya hal ini menjadi isu global yang harus ditangani bersama. Adapun pendidikan yang berkualitas menjadi salah satu target yang harus dicapai dalam program Sustainable Development Goals (SDGs) dari UN Summit sejak awal tahun 2016.
Salah satu usaha pencapaian dari program SDGs itu adalah perlunya kesadaran akan pendidikan anak usia dini. Melalui KORIDOR (Komunitas Rumah Pintar Ambasador) diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan. KORIDOR, Komunitas Rumah Pintar Ambasador ini lahir dari sebuah musyawarah besar yang diikuti oleh 242 peserta penerima beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) dari 29 universitas yang tersebar di seluruh Nusantara dalam kegiatan pelatihan The Ambassador Leadership BPJS Ketenagakerjaan Camp 1 Batch 4. Komunitas ini kemudian menjadi sebuah agenda bersama yang sifatnya wajib dilakukan secara serentak oleh ke-29 universitas tersebut. Adapun kegiatan utamanya ialah mendirikan sebuah desa binaan dan bimbingan belajar bagi siswa sekolah dasar di bawah naungan Paguyuban KSE di masing-masing universitas.
Bagi kami, Paguyuban KSE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menemukan sebuah desa di lingkungan perkotaan adalah tidak mudah. Maka dari itu, kami memutuskan untuk tidak memaksakan diri mencari sebuah desa di daerah pelosok dikarenakan akses yang bisa dikatakan cukup rumit dan tempat yang tidak mungkin bisa dijangkau dengan berjalan kaki. SD Islam Ruhul Amin yang terletak di Jalan Haji Abdul Gani No. 44 RT 02/RW 01 Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan menjadi pilihan karena sekolah ini sangat membutuhkan tenaga kami, yakni para mahasiswa sebagai tenaga pengajar tambahan.
SD Islam Ruhul Amin ini merupakan salah satu sekolah dasar yang berbeda dengan sekolah dasar lainnya. Di mana siswa-siswi didiknya merupakan dari kalangan keluarga yang kurang mampu dan dari pihak sekolah pun tidak membebankan biaya sekolah pada orang tua siswa. Sekolah dasar ini menjadi pilihan karena dirasa akan sangat baik ke depannya untuk memberdayakan siswa dan orang tuanya dengan berbagai binaan yang dapat menunjang kreativitas dan prestasi. Belum lagi berdirinya sekolah ini didasari oleh keinginan pemilik Yayasan Ruhul Amin untuk membangun sekolah khusus warga yang tidak berkecukupan dalam hal finansial. Hal inilah yang mendorong kami untuk membantu pemilik yayasan dalam mencapai mimpinya.
Menurut Pak Andi, sang pemilik Yayasan Ruhul Amin, sekolah pada era sekarang dan era dahulu itu sangat berbeda, belum lagi diiringi oleh berjalannya globalisasi yang menuntut dunia untuk berubah. Zaman dahulu, untuk bersekolah bisa dikatakan cukup mudah, tidak perlu menyisihkan biaya untuk beli seragam sekolah, buku cetak, sepatu, tas, dan lain-lain. Berbeda dengan sekarang, harus beli ini itu untuk pergi ke sekolah, contohnya seperti buku cetak yang harganya selangit harus dibeli, tidak hanya satu buah buku, tapi beberapa buah, kalau tidak beli akan sulit mengikuti mata pelajaran di sekolah katanya. Bagi warga sekitar, ini menjadi salah satu hambatan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya. Seharusnya hal ini tidak menjadi kekangan tersendiri untuk bersekolah. Inilah yang menjadi dasar Pak Andi untuk mendirikan SD Islam Ruhul Amin.
Kondisi finansial terkadang menjadi pertimbangan orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya. Tidak sedikit orang tua siswa tersebut yang berprofesi sebagai pedagang. Di lingkungan sekitar sekolah pun banyak warga yang membuka toko kelontong sebagai aset dari usaha dagangnya. Kami Paguyuban KSE UIN Jakarta memilih SD Islam Ruhul Amin dan lingkungan sekitarnya untuk dijadikan tempat binaan kami. Adapun pendekatan melalui orang tua siswa adalah salah satu cara yang akan kami gunakan untuk membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka kelak.
Grand Opening KORIDOR dan Seminar Parenting “Bersama Mencerdaskan Bangsa” yang dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2017 di SD Islam Ruhul Amin adalah salah satu langkah awal Paguyuban KSE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam memulai pembinaan tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anaknya. Sebelumnya sudah dilaksanakan bimbingan belajar Matematika dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) selama tiga minggu bagi siswa kelas 2-5 SD Islam Ruhul Amin. Grand Opening KORIDOR dan Seminar Parenting ini sebenarnya ditujukan bagi orang tua siswa dan warga sekitar sebagai bentuk pengenalan dasar tentang adanya kegiatan bimbingan belajar bagi siswa serta binaan mengenai psikologi anak bagi orang tua siswa yang rencananya akan diadakan secara berkelanjutan.


Selain itu, diadakan juga sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan saat bekerja. Melalui BPJS Ketenagakerjaan juga tidak menjadikan pekerjaan orang tua siswa dan warga sekitar sebagai beban pikiran disamping mengurus pendidikan anak. Tak luput juga sesi pelayanan cek kesehatan gratis yang dilayani oleh tim medis Paguyuban KSE UIN Jakarta sebagai salah satu penarik acara ini.

Penulis : Safira Nadwa Adauly
The Ambassador Leadership BPJS Ketenagakerjaan Camp 1 Batch IV
Divisi Kewirausahaan

Selasa, 30 Mei 2017

Yuk Mengembangkan Diri Menjadi Manusia Bermanfaat Bagi Sesama

Memasuki abad ke 21 pengaruh globalisasi makin terasa kuat dan terbuka. Salah satunya dibuktikan melalui kemajuan dunia teknologi yang terus berinovasi untuk memudahkan dan menggantikan segala aktifitas manusia. Indonesia berada di tengah era yang baru dimana orang bebas berpendapat, berpihak dan membandingkan kehidupan antar negara. Kualitas suatu Negara dapat dilihat melalui aspek pendidikan, oleh sebab itu kesadaran akan mutu pendidikan di Indonesia sangatlah penting.  Seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 bahwasanya pendidikan adalah hak segala bangsa, maka tanggung jawab kita bersama untuk memajukan  kualitas pendidikan di Indonesia baik dalam sektor formal, non formal, maupun informal. Peran kaum muda khususnya mahasiswa untuk berperan aktif pada lingkungan dan berprestasi baik akademik maupun non akademik dapat memberikan pengaruh besar bagi kualitas pendidikan di Indonesia.

Berkaitan dengan pendidikan kiranya kita juga perlu menengok peran kaum muda dalam upaya mengembangkan dirinya untuk berprestasi sesuai dengan bidang yang mereka sukai, khususnya dalam artikel ini pendapat dari seorang beswan KSE UIN Jakarta. Laki-laki yang cukup populer di paguyuban KSE UIN Jakarta. Bertubuh kurus, kulit sawo matang dan memiliki senyuman manis. Penerima beasiswa KSE UIN Jakarta kelahiran kota Hujan  ini bernama Karvin Fadila. Berstasus mahasiswa jurusan Ilmu Hukum di UIN Jakarta dan sedang asyik menuntut ilmu di Kahfi Motivator School. Ia juga aktif di masyarakat salah satunya dengan menjadi fasilitator anak dan remaja. Berbekal pengalaman menjadi ketua di berbagai organisasi SMP dan MA, Ia kerap diamanahkan menjadi pendiri dan dewan pembimbing Forum Komunikasi OSIS Kabupaten Bogor. Tak hanya itu, Ia pun sering diundang sebagai pembicara di berbagai sekolah dan universitas. Bagi pria kelahiran bulan Juli ini, menjadi pembicara bisa lebih dekat dengan masyarakat.



Menurut Karvin, hal terpenting menjadi pembicara bukanlah mendapatkan uang. Akan tetapi, seorang pembicara harus bisa membuat audiens merasa senang dengan apa yang dilihat dan disampaikan. Selain itu, isi atau materi yang disampaikan harus bermanfaat atau mempunyai efek positif untuk audiensnya.  Meskipun kuliah hampir tiap hari, Karvin tetap bisa membagi waktu. Ia selalu membuat perencanaan kegiatan agar tidak bentrok agenda-agenda yang Ia miliki. Semisal bentrok dengan kuliah yang padat, Ia akan memakai nyawa 3 kali yang sudah ada dalam perjanjian kontrak kuliah.

Karvin begitu dia biasa disapa, mengutarakan bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang konsultan hukum dan trainer profesional. Pencapaian yang paling berharga dalam hidupnya adalah ketika dia dipercaya untuk mengemban tugas ke berbagai tempat di Indonesia sesuai dengan bidang yang dia minati. Motivasinya selama ini untuk terus mengembangkan diri karena dia ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, karena itulah sebaik-baiknya manusia, dan juga mengacu pada perkataan nabi bahwa orang baik akan terus memperbaiki dirinya setiap hari. Harapannya untuk kemajuan pendidikan semoga pendidikan di Indonesia mampu “mendidik” anak-anak bangsa secara mandiri bukan dengan cara “memanjakan” serta lebih berpikir jauh kedepan bukan hanya berkutat pada saat ini saja.
Kali ini dia juga memberikan kiat- kiat sukses agar prestasi akademik tetap baik, yaitu beristiqamahlah dalam hal yang bisa buat dirimu nyaman dan mendukung peningkatan akademikmu, namun jika apa yang kamu lakukan membuat merosot nilai akademikmu, maka ubahlah pola belajarmu

Suci Fatikah Sari
Divisi Rumah Bahagia

Percayalah, Rindu Itu Berat


Lama sebelum aku tau CAMP KSE itu apa, waktu aku masih mengganggap camp membuang waktu belajarku, camp tidak terlalu penting karena real world aku hanya bergelut dibidang akuntansi dan teman-temannya,  camp mengurangi jatah absenku, camp capek harus makan cepat dan membuat ngantuk, camp membuat kulitku hitam, camp membuat tubuhku makin gemuk dan hal-hal buruk lainnya.

Camp gak perlulah yaa yang penting beasiswa cair. Kenapa sih orang pulang camp itu lebay banget sama temen-temen universitas lain aku punya temen universitas lain tapi gak selebay itu tuh. Banyak lagi difikiranku, seburuk sangka itu aku terhdap camp KSE, sebegitu mengutuknya aku terhadap camp KSE.
Temenku bilang kamu ngapain pelatihan KSE kok ada makan cepet segala, aku dari beasiswa *tuuuut* pelatihan enak toh dihotel dan gak ada makan cepet tidur kurang gitu. Semakin makin fikiran burukku terbangun karenanya.

Memang, hidup ini adil. Karma berlaku disegala bidang. Satu waktu namaku terdaftar sebagai peserta Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) Scholarship Camp Batch 2 yang dilangsungkan di Hotel Bentani, Cirebon. Entah kenapa bukan kesal yang aku rasakan, melainkan rasa penasaran yang sangat amat. Entah darimana perasaan itu muncul.
Hari H pun tiba, sehari dua hari berjalan begitu asing rasanya langsung mau pulang, gamau ikut positive fighter karena impossible bisa ngumpulin duit tanpa modal. Gak tahan nahan ngantuk waktu materi karena efek makan cepat tidur kurang. Rasanya mata udah wangi fresh care. Rasanya pengen cepet-cepet balik ke Ciputat! Oh Ciputatt aku kangen!

Hari ketiga berlalu, hari keempat datang. Semakin banyak teman yang merasakan hal sama, susah sama-sama, makan cepat bersama-sama tidur kurang juga bersama-sama. Mulai dikenal dan mulai mengenal, mulai mengenal mulai sayang. Mulai sayang mulai gak mau pisah. Daaaan itu dia karma datang. Menjelang hari-hari terakhir rasanya gak mau pulang. Gak mau kuliah. Gapapa deh makan cepat tidur kurang yang penting bareng-bareng di Cirebon.

Oooh ternyata ini yang dirasain teman-teman lainnya yang pulang setelah camp. Yang susah move on dari campnya. Oh ini ternyata rasanya lebay karena LDR-an sama familynya yang udah terlanjur sayang. LDR-an sama temen satu pleton dan satu camp CCFI Batch 2.
Sekarang hanya bisa nostalgia di group chat line mengungkapkan kerinduan dengan cara kami masing-masing. Rasanya mau camp lagi, minta ke yayasan adain camp 2 nya hehehe. Ya mungkin itu ungkapan kenorakan rasa susah moveon pasca camp. Selamat menikmati kejamnya rindu.

Rusydina Alfiah
Divisi Rumah Bahagia

Prestasi dalam Edukasi

Sumber foto : news.okezone.com

Pendidikan merupakan suatu proses untuk mencapai sebuah kehidupan yang bermanfaat, karena pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terorganisir untuk mengkonstruksi dan membantu  perkembangan  potensi manusia. Pendidikan adalah salah satu kunci penentu bagi manusia modern untuk membuka peluang menuju keberhasilan hidup. Pendidikan bukan hanya dipandang sebagai hak asasi manusia, tetapi juga sebagai hak yang memungkinkan pemenuhan hak-hak asasi lainnya. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan adalah: "Tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya."

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas dan kemajuan suatu bangsa. Manusia dianggap mundur jika tidak ada pendidikan. Proses pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia. Bermula di dalam kandungan ibu hingga akhir hayat. Pendidikan dianggap sebagai satu hal yang mendasari kehidupan manusia. Kesuksesan seseorang bergantung bagaimana pendidikan yang diterimanya. Pendidikan tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga, namun juga berasal dari lingkungan sekolah dan pergaulan. Jika melihat realita pendidikan yang ada di Indonesia, pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Finlandia. Finlandia menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia karena memiliki guru yang berkualitas. Menurut laporan The Guardian, guru-guru di Finlandia harus melalui seleksi dan pelatihan yang cukup ketat. Tak sembarang orang yang dipilih untuk menjadi guru di negara tersebut. Guru-guru dilatih agar dapat memilih metode apa yang akan mereka gunakan di dalam kelas. Guru-guru juga bebas dari persyaratan eksternal seperti adanya inspeksi, pengujian standar dan kontrol dari pemerintah. Finlandia sudah meniadakan proses inspeksi sekolah sejak tahun 1990-an. Sebab itu, wajar saja jika Finlandia menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Jika dibandingkan dengan pendidikan di Indonesia, Indonesia masih jauh tertinggal dari pendidikan di Finlandia. Beradasarkan berita yang dimuat pada laman berita Kompas.com Desember 2014, Mendikbud menjelaskan bahwa 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. Berdasarkan pemetaan Kemendikbud terhadap 40.000 sekolah pada 2012, diketahui bahwa isi, proses, fasilitas, dan pengelolaan sebagian besar sekolah saat ini masih belum sesuai standar pendidikan yang baik seperti diamanatkan undang-undang. Selain itu, nilai rata-rata uji kompetensi guru belum terpenuhi. Nilai rata-rata guru yang diharapkan adalah 70, namun saat ini baru 44,5 nilai yang didapat. Meski demikian, banyak pula generasi Indonesia yang memiliki prestasi dalam bidang pendidikan, di antaranya seperti yang dimuat pada laman berita detik.com bahwa empat orang pelajar tingkat SMA di Lamongan mewakili Indonesia dalam ajang Internasional Science Project Olympiad (ISPO) di Rumania dan Brazil. Selanjutnya yaitu Samuel Leonardo Putra, pada laman yang sama dikemukakan bahwa ia merupakan salah seorang pemuda Indonesia yang lulus dengan nilai First Class (IPK setara 3,5-4) ditambah dengan predikat Summa Cumlaude di Universitas Oxford, Inggris. Pelbagai prestasi yang telah dipaparkan di atas menggambarkan bahwa pendidikan sangat penting dalam menunjang prestasi seseorang. Seseorang yang telah mendapatkan pendidikan yang memadai baik pendidikan moral, intelektual, maupun rohani, akan dengan mudah dapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Terlebih lagi  pendidikan intelektual seperti yang dikuasai Samuel. Kecerdasannya dalam bidang Sains dan berbahasa Inggris memudahkannya ketika kuliah di Inggris. Ia mendapatkan pundi-pundi tambahan dari hasil mengajar Sains di SMP-SMA di Inggris. Selain itu, pendidikan moral yang telah ia dapatkan dari keluarganya juga membantunya agar tidak mudah terjerumus pada pergaulan-pergaulan yang negatif. Ia justru mengikuti berbagai kegiatan sosial dan kegiatan mahasiswa lainnya yang bermanfaat. Ketika pulang di Indonesia, ia juga sering diundang untuk mengisi acara di sekolah-sekolah untuk memotivasi siswa agar mau kuliah di luar negeri. Berdasarkan pemaparan tersebut, terdapat relasi antara makna pendidikan dengan prestasi. Oleh sebab itu, perlu bagi kita untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama pendidikan moral dan intelektual. Jika keduanya sudah dikuasai, maka akan sangat mudah bagi kita mencapai kehidupan yang diharapkan.

Monita Sholeha
Divisi Rumah Bahagia

Menulis Catatan


Pensil ini menarik tanganku
Memaksa untuk mengelus kertas polos
Memaksa untuk mencabut akar malas
Memaksa untuk menulis dunia yang keras
Huruf-huruf merangkai kata
Kata-kata merangkai kalimat
Kalimat-kalimat merangkai paragraf
Apakah kamu mulai mengerti semua ini?
Tidak kah semua akan berlalu?
Tidak kah semua akan pergi?
Tidak kah semua akan menjadi sejarah?
Lagi, apakah kamu mulai mengerti semua ini?
Isi catatanmu melukiskan isi kepalamu
Dengan catatan, kita bisa ingat mutiara masa lalu
Dengan catatan, kita bisa melawan kebodohan yang lalu
Dengan catatan, kita memegang kunci yang baru

Kevin Nur Rohmat
Divisi Rumah Bahagia

Rokok Membuat Kamu Bisa Kaya

Sumber : halosehat.com

Menurut
sebagian orang rokok adalah sesuatu yang begitu dinikmati dan digemari dan tentunya itu adalah bagi penggemar smokers, yoman smokers terdengarkeren di telinga. Itu hanya keren di telinga tapi tidak keren untuk dicerna dan diliat orang lain!!!

Bagi para smokers beranggapan rokok dapat menjadikan rokok sebagai kebutuhan pokok dan penghilang rasa stress, BT, pusing dan kegalauan. Cielah kegalauan juga melanda smokers..wkwk. Kalau kalian pernah muda pasti pernah dengar kata - kata orang terdahulu yang berkata“ lebih baik tidak makan, daripada tidak merokok” ada lagi “ Tidak Merokok setelah makan, rasanya seperti dipukulin orang sekampung”.

Gilee gak ndroo itu kata, maknanya lebih memilih tidak makan dan rasanya di pukulin orang sekampung, ajaib sekali perokok Indonesia ini. Padahal efek tidak makan lebih parah dari pada tidak merokok. Perlu diingat ya teman-teman sekalian secara sadar maupun tidak sadar efek dan bahaya rokok akan begitu banyak dan ditambah banyak kerugian yang ditimbulkan oleh rokok. Penasaran dengan efek dan bahayanya yuk cekidot efek bahayanya di bawah ini :

Rokok membahayakan paru-paru
Rokok dapat membahayakan tulang
Menghisap Rokok Dapat Membahayakan Stroke & Jantung
Menghisap Rokok Dapat Membahayakan Gigi & Mulut
Rokok dapat membahayakan kulit
Menghisap Rokok Dapat Menyebabkan Kanker


Hati-hati merokok membuat kamu semakin kaya. Iya karena merokok memang akan membuat kamu semakin kaya akan penyakit, bukan harta dan kemewahan. Masih berminat untuk merokok…..??????

Jadi masih mau kaya dengan rokok, mendingan makan nasi deh dari pada ngisep benda kecil yang menyebabkan kaya penyakit. Nah kamu sudah tau kan, jadi jangan bilang anak smokers itu gaul. Memang keren diliat secara fisik tapi mau punya pasangan yang penyakitnya banyak? Hmmm

Yuk kita hidup sehat , jauhi yang namanya rokok mulai detik ini.

Risma Ramjani
Divisi Rumah Bahagia
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Our Reach

Our Reach

Our Donors

Our Donors