Langsung ke konten utama

Apasih Teknologi Ramadhan?

Di negeri ini sering kali terjadi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Mulai dari perbedaan di teman kelas, tetangga, bahkan saudarapun ada yang berbeda. Pasalnya terjadi perbedaan metode yang digunakan saat pengambilan keputusan penentuan hal tersebut. Ada yang memakai metode hisab, ada yang menggunakan rukyat versi pemerintah, dan ada yang menggunakan rukyat versi luar negeri. Hal seperti ini bisa dijadikan alasan untuk mendiskusikan astronomi (ilmu falak) Islam.
Namun, perlu diketahui bahwa pada zaman Rasulullah penentuan awal dan akhir dengan menggunakan metode rukyatul hilal belum sampai menggunakan ilmu Astronomi. Pada zaman dahulu menentukan hanya dengan melihat kapan matahari terbenam atau kapan bulan sabit pertama muncul. Hanya diperlukan mata yang sehat, akal yang jernih, hati yang tulus dan sedikit pengetahuan tentang ciri-ciri objek langit yang dumaksud.
Namun perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa peradaban Islam telah melahirkan ratusan astronom besar, yang menciptakan ratusan teknik pengamatan berikut alat-alatnya, ratusan rumus dan metode perhitungan, ratusan tabel almanak dan kepada dunia mewariskan ribuan bintang-bintang yang hingga kini masih dinamai dengan nama-nama Arab – bahasa yang pernah sangat dominan dalam dunia astronomi.
Astronomi berkembang oleh kebutuhan penjelajahan kaum muslim baik dalam rangka perburuan ilmu ke negeri-negeri yang jauh (seperti Tiongkok) maupun untuk menjawab tantangan jihad.  Pada saat itu, rival utama di dunia adalah Romawi dengan angkatan laut yang kuat di Laut Tengah.  Untuk melawan angkatan laut diperlukan angkatan laut pula.  Untuk menentukan posisi dan arah di tengah lautan diperlukan navigasi dengan astronomi.  Makin teliti seorang navigator mampu menentukan posisinya di tengah laut dengan pengamatan benda langit, makin akurat mereka dapat menghitung waktu yang diperlukan untuk menuju sasaran, dan berapa logistik yang harus dibawa tanpa membebani kapal.

Dalam astronomi, karya astronom Mesir/Yunani kuno Ptolomeus, terutama dalam kitab Almagest, dan karya astronom India kuno Brahmagupta, telah dikaji dan direvisi secara signifikan oleh astronom muslim. 

Ibn al Haytsam yang menemukan ilmu optika, prinsip kamera dan membuat lensa teleskop menunjukkan fenomena perjalanan planet Venus dan Mars yang tidak mungkin dijelaskan dengan model geosentris.  Tokoh-tokoh seperti al-Biruni, al-Battani, Ibnu Rusyd, al-Balkhi, al-Sijzi, al-Qazwini dan al-Shirazi telah mendiskusikan model Non-Ptolomeus yang heliosentris dengan orbit elliptis, yang belakangan diadopsi oleh Copernicus dan Keppler.  Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi sama persis dengan Nasir-ud-Din al Tusi dan Ali-al-Qusyji beberapa abad sebelumnya.  Karena mereka beraktivitas di Maragha, maka pendapat ini sempat disebut “Revolusi Maragha pra-Rennaisance”.

Yang terpenting dari kontribusi umat Islam adalah metodologi.  Astronomi telah dipisahkan dari filsafat, yang meski tampak logis namun berawal dari aksioma atau postulat yang boleh jadi tidak didasarkan realitas empiris yang lengkap.  Astronomi juga dipisahkan dari astrologi berbasis klenik yang diharamkan.  Astronom muslim menggunakan metode empiris serta analisis matematis untuk menghasilkan rumusan umum yang dapat dipakai untuk prediksi yang sangat akurat.  Suatu prediksi astronomi yang dibangun dari data pengamatan yang akurat dan lama, misalnya prediksi gerhana matahari, hampir tidak mungkin meleset.  Prediksi ini hanya bisa dikoreksi oleh pengamatan yang lebih akurat lagi.

Di zaman modern, seluruh pengetahuan astronomi yang dikembangkan dunia Islam ini diteruskan oleh dunia Barat.  Ketika umat Islam menjadi mundur karena negara Khilafah melemah dan akhirnya hilang, Barat terus membangun berbagai observatorium optis maupun radio, bahkan observatorium satelit (seperti teleskop Hubble).  Mereka juga mengeluarkan tabel-tabel astronomis modern seperti Ephemeris, Nautical Almanach, Astronomical Almanach dan sebagainya.  Data dan perhitungan yang akurat ini mutlak perluk untuk meluncurkan pesawat ruang angkasa, mengoperasikan satelit – termasuk satelit navigasi GPS, yang telah memandu jutaan pergerakan kendaraan dan manusia dewasa ini.  Andaikata rumus-rumus astronomi modern itu keliru secara fatal, tentu jutaan pengguna GPS akan tersesat, dan ini akan menjadi kehebohan besar.

Anehnya, di abad-21, umat Islam seperti terhempas kembali ke zaman pra Islam.  Sebagian praktisi rukyat menafikan tabel astronomis modern (seperrti ephemeris) dengan alasan itu dibuat oleh orang kafir. 

Sebaliknya, rumus-rumus pendekatan (hisab taqiribi) dari kitab-kitab tua karangan ulama Islam terdahulu yang dibuat untuk menyederhanakan perhitungan karena belum adanya komputer, justru terus dipakai, bahkan seolah-olah sakral, padahal untuk menghitung posisi matahari yang terang benderang saja bisa meleset cukup jauh.  Dari berbagai hisab yang kurang akurat inilah timbul kesan bahwa astronomi belumlah menjadi ilmu pasti (qath’i), melainkan baru dzanny, sementara rukyatul hilal dianggap sesuatu yang lebih pasti, jadi lebih kuat.

Sementara itu, tanpa disadari mayoritas muslim yang hidup saat ini sebenarnya sudah kurang “mengenal langit” dalam kehidupan sehari-hari, karena telah tersedia jam, radio atau bahkan GPS.  Mereka tidak lagi seperti Badui padang pasir yang datang ke Rasulullah kala itu.  Ketika muslim saat ini mencoba melihat hilal, ditambah dengan keyakinan pada prediksi hisab taqribi, atau prediksi dengan kriteria yang memang tidak memiliki dasar sains maupun syar’i, maka muncullah berbagai klaim hilal yang kontroversial dengan data astronomi modern.

Sebenarnya, jika rukyat yang kontroversial itu didukung foto atau rekaman video, mungkin akan mengoreksi rumus-rumus astronomi yang sudah dianggap valid.  Koreksi yang bahkan akan sangat besar.  Tetapi apa lacur, sebagian praktisi rukyat ini juga menolak menggunakan teleskop atau kamera, dengan alasan Nabi tidak menggunakannya, seolah-olah ini adalah ibadah tauqifi.

Memang rukyatul hilal agar valid secara syar’i tidak memerlukan konfirmasi astronomi.  Tetapi bila fenomena ini terus berlanjut, maka seolah-olah umat Islam mengingkari sendiri prestasi-prestasi astronomi yang pernah diraih dalam peradaban keemasannya

Sumber :
Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar

Ginanjar Ramadhan
Divisi Media, Komunikasi, dan Informasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Leadership untuk Masa Depan Mahasiswa

Leadership atau biasa disebut kepemimpinan , merupakan cara seseorang untuk memimpin orang lain guna mencapai tujuan bersama. S eorang mahasiswa wajib memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. M emiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi tidak bisa di peroleh dalam waktu satu malam , perlu pelatihan secara terus menerus. Se benarny a dalam diri setiap manusia telah diberikan anugerah dan potensi yang besar oleh Tuhan Yang Maha Esa . K ita hanya perlu mengasah potensi yang telah diberikan agar bisa bermanfaat bagi sesama. S alah satu upaya untuk memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi adalah dengan ikut terlibat dalam berbagai kerjasama ( teamwork ) dalam suatu team . B ekerjasama dengan team membuat mahasiswa banyak belajar bagaimana memecahkan masalah, memberikan ide dan gagasan, mempengaruhi orang lain, serta merealisasikan ide dan gagasan tersebut dengan baik. P emimpin masa depan dilahirkan dari pemuda masa k ini.   Pemimpin yang saat ini bekerja untuk rakyat tidak serta

Peran Pemuda Memajukan Literasi di Daerah 3T

Pendidikan merupakan proses pembelajaran yang menitikberatkan pada berkembangnya manusia dari yang tidak tahu menjadi tah u. D alam hal ini , pendidikan dapat diartikan juga sebagai proses memanusiakan manusia. Selain itu, pendidikan juga dapat didefinisikan sebagai usaha sadar untuk mencapai taraf hidup dan menumbuhkembangkan kualitas diri. Ki Hajar Dewantara menjelaskan , pendidikan termasuk tuntutan dalam hidup dan tumbuh kembang anak-anak. M aksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Mutu Pendidikan Indonesia Dalam konteks Indonesia , pendidikan masih ada dalam taraf berkembang. Bahkan , menurut laporan yang dirilis oleh International Student Assessment  (PISA) pada 2018 lalu, Indonesia berada di posisi "tertinggal" dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam . Memang , mutu pendidikan di Indonesia terbilan

FAQ Seputar Beasiswa Karya Salemba Empat

  FAQ Seputar Beasiswa Karya Salemba Empat 1.      Apa itu KSE? Jawaban: Yayasan Karya Salemba Empat adalah yayasan yang berkomitmen untuk membantu pendidikan anak-anak bangsa. Berdiri pada tahun 1995 dengan jumlah founder sebanyak 8 orang dari FE UI. Para Ayahanda kami pada awalnya resah melihat kondisi teman-temannya yang kurang mampu untuk melanjutkan perkuliahan dan pada akhirnya mereka berinisiatif untuk mengumpulkan uang jajannya perbulan untuk memberikan bantuan kepada 4 Mahasiswa FE UI.   Pada tahun 1996 Yayasan Karya Salemba Empat resmi menjadi sebuah Yayasan/Foundation dengan jumlah penerima beasiswa sebanyak 10 mahasiswa dengan motto Sharing, Networking and Developing akhirnya Yayasan KSE berhasil membuka pendaftar dari luar UI. Hingga saat ini tercatat sudah 34 PTN (dari Sabang sampai Merauke) yang menerima manfaat beasiswa ini dengan total penerima sebanyak kurang lebih 12.000 mahasiswa dan Yayasan KSE dinobatkan sebagai beasiswa dengan penerima terbanyak kedua se-Indo