Langsung ke konten utama

Cerita Unik, Perjuangan Mendapat Beasiswa KSE

Hei teman-teman, gimana kabarnya nih? Mulai bosen ya ditengah pandemi gini. Sama nih kayaknya semua orang bosen deh. Ohya, disatu waktu yang sama, ada orang yang melakukan kegiatan produktif lho seperti mengasah skill, belajar lebih dalam materi kuliah yang kurang dipahami, i think jualan, atau kegiatan-kegiatan yang lain. Nah, kira-kira kamu mengisi hari-hari kamu dengan kegiatan apa nih?

By the way, gue Yoga Pratama Hidayat, teman-teman gue biasa manggil dengan sebutan Yoga aja, it means “Yoga” gak pake “aja” hehe. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Jakarta prodi Fisika tepatnya di fakultas Sains dan Teknologi (SAINTEK).

Ngomongin beasiswa KSE nih, gue bakal cerita pengalaman pertama gue yang penuh hectic dimana awalnya gue ambis banget saat itu tepat semester 2 ikutan beasiswa KSE, waktu itu masih ngeraba-raba sih maklum masih ada hawa-hawa maba.

Sewaktu ada diskusi beasiswa gitu dari fakultas, ya gue nimbrung aja gitu sampai pada waktu dimana gue dikasih tahu dari abang kita di Fisika yang sangat ­lagend sekali no debat, siapa lagi kalau bukan bang Yuda Gunawan. Dia ngasih tau banyak tentang beasiswa KSE dari A-Z, mulai dari keseruan, benefit, pengalaman dan yang pasti ilmunya. Itu gue kayak melongo (Betawi Language “Bengong”) aja. Dalam hati gue begini, “Gue harus lolos nih di beasiswa KSE, udah ya kita dapat benefit ditambah lagi dapat pengalaman.”

Akhirnya h-3 minggu gue baru ngumpulin data, soalnya gue butuh istikhoroh dan minta doa dari orangtua dulu. Akhirnya disaat gue udah mantep, bismilllah gue maju. Sampai pada saat mengisi form di beasiswa.or.id disitu harus ada surat keterangan dari Fakultas, oke gue mikirnya diawal, “Udahlah yang susah-susah dibelakangin aja, kita kumpulin berkas yang gampang-gampang dulu.” Yaudah dong, gue akhirnya ngikutin pemikiran gue yang sebenarnya secara fisis emang bener, tapi kenyataanya huhuhu -_- gue gak mau spolier dibaca terus deh. Nah, semua berkas kira-kira 3 hari udah kekumpul semua dan gue semakin yakin bahwa gue bakal lolos. Nah, kira-kira h-1 minggu gue udah kelar semua berkas kecuali satu.

Coba tebak kira-kira apa? Ya, apa lagi kalau bukan surat keterangan dari Fakultas. Hal yang paling sulit dari semua berkas yang dikumpulin adalah minta surat keterangan dari Fakultas, pas h-5 itu udah mendekati hari terakhir justru gue berpaling ke Jogja, nah di Jogja gue ada janji dong sama temen karena gue dan beberapa temen gue ke Jogja dalam rangka Dauroh Tauhid yang diadakan oleh Indonesia Bertauhid kira-kira 3-4 hari dan kalau gue ceritain bakalan penuh hectic sih. Dan pas h-1 ternyata gue bener-bener gak ngumpulin berkas terakhir gue, dan justru masih santai banget, karena di website sendiri itu udah sekitar 98%, pas nanya-nanya ke bang Yuda, doi bilang supaya diisi. Yaudah pasrah aja bismillah “Gue gak ngisi”

Ohya, ternyata tepat pada hari dimana pengumuman lolos pertama, dan gue lolos. Hahaa udah sombong banget sih, that’s my mistake. Saat itu gue wawancara di UNJ, sehari sebelum berangkat kesana gue udah nyiapin berbagai jawaban yang bakal di tanyain sama pewawancara. Pas pagi-paginya gue udah ngerasa pede banget, pakai-pakaian paling formal, terus nyiapin di tas apa-apa aja yang perlu di bawa, dan akhirnya gue naik motor yang selalu setia sama gue untuk menemani hari pembuktian apakah gue lolos Beasiswa ini atau enggak.

Ekhhmm, tardulu minum dulu. Oke kita lanjut, Gue motoran ngandelin Google Maps, beberapa kali gue sempet di nyasarin sama Google Maps, lewat jalan sempit, terus harus lewatin banyak emak-emak pada ngerumpi, ada kang sayur gerobakan segala. Wkwk, sekilas kayak film banget yak? Nah, setelah sampai di UNJ gue markir dilantai paling tinggi, padahal bisa aja parkirnya di lantai paling bawah, karena gue udah tegang banget. Oke, gue ngaca dulu sebentar dan gue yakini bahwa gue udah siap dong.

Sesaat sampai didepan gedung, gue mulai naik tangga menuju lantai dua dan ternyata harus nunggu dulu karena anak-anak UIN yang lain belum pada datang, sambil ngobrol beberapa kali, gue mainin Instagram, sampe dikasih nomor urut gitu. Akhirnya gue masuk ke ruangan besar kayak ruang seminar kali ya, istilahnya apa ya, ada yang tahu? Setelah masuk acara tuh dimulai dengan berbagai sambutan, lalu masuk ke sesi wawancara, ini sesi yang paling ditakutin sih. Honestly, gue pernah kerja di perusahaan Konveksi, tapi gue ga diwawancarain se-Killer ini. Oke lah daripada gue banyak spoiler sebelum waktunya kan, gue lanjut dulu.

Ini sesi wawancara yang paling menegangkan, karena gue dapat nomor urut pertama, kan gue diawal udah bilang kalau gue datang diawal tuh paling pertama, jadi gue dapat no urut pertama. Amsyoong gue, wkwk tapi gakpapa kita gak boleh menyesali karena semua sudah menjadi takdir ilahi. Anyway, gue masuk ke tempat wawancara saat nama gue dipanggil, waktu itu ada yang ngasih tau dari kaka senior, “Jangan panik ya santai aja, Good lock!” Secara langsung itu kaka senior gue dari KSE, ngasih tau, “Wayuluuuhhh yang wawancara killer!” Pas masuk di ruangan ternyata ada beberapa pewawancara, kalau dari wajahnya sih pertama, mereka bukan mahasiswa. Kedua, mereka sepertinya sudah bekerja. Ketiga, gue lupa semua yang gue siapin karena ketegangan ini. Aduhhh, ini gue ikut tegang kok ya nyeritainnya. Jadi, pertama-tama tuh di sesi wawancara beliau menanyakan soal biodata kita, karena yang nge-wawancarain gue adalah ibu-ibu, jadi sangat amat formal sekalih. Yaudah, gue jawab nya formal, sampai pada titik dimana ibu itu nanya perihal aktivitas, dan gue jawab aktivitas nya cukup banyak, termasuk gue lagi ngembangin Kopi Kuadrat. Itu masa-masa nya lagi rame teman-teman gue ngorder Kopi wkwk. Setelah keluar, gue berasa menghirup udara-udara segar dan amat bahagia, di waktu yang sama gue liat temen-temen gue pada pucet, Hahaha. Terus pas nyampe bawah ada beberapa orang nanyain tentang, “Apa aja sih kira-kira yang ditanyain si pewawancara?” Ya gue jawab secara umum.

Oke, gue langsung balik dengan hati yang lapang sekali, gue mulai menunggu kabar pengumuman kelolosan Beasiswa KSE. And Finally, gue ngeliat temen-temen sekelas gue pada lolos dan pas gue liat di pengumuman gue gak lolos dong :) Gue sedihhh bangeeet, pupus lah harapan gue, pupus lah semua keinginan gue tuk dapat pengalaman, ini tuh rasanya kayak disakitin tau gak sih? Tapi, gegara gue amysong. Itu nge-push semangat gue untuk maju, lebih berprestasi. Karena KSE bukan alasan gue untuk berhenti berprestasi, berhenti berkarya, justru kalaupun gue lolos, ya gue bakalan lebih berprestasi lagi. Banyak sih pelajaran yang gue ambil disini, mulai dari gak boleh menunda pekerjaan, sampai ga boleh sombong. Karena diatas awan masih ada awan :)

Wokeee, itu dia tulisan part pertama mengenai pengalaman gue berjuang untuk mendapatkan Beasiswa KSE ini. Kira-kira pengalaman kamu se-hectic ini gak sih, atau bahkan lebih unik. Komen aja dulu, nanti kita up! Terimakasih sudah membaca artikel ini, jangan lupa untuk berbagi yuk ke beberapa platform media sosial ini, barangkali ada teman kamu yang lagi berjuang dan butuh motivasi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Leadership untuk Masa Depan Mahasiswa

Leadership atau biasa disebut kepemimpinan , merupakan cara seseorang untuk memimpin orang lain guna mencapai tujuan bersama. S eorang mahasiswa wajib memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. M emiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi tidak bisa di peroleh dalam waktu satu malam , perlu pelatihan secara terus menerus. Se benarny a dalam diri setiap manusia telah diberikan anugerah dan potensi yang besar oleh Tuhan Yang Maha Esa . K ita hanya perlu mengasah potensi yang telah diberikan agar bisa bermanfaat bagi sesama. S alah satu upaya untuk memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi adalah dengan ikut terlibat dalam berbagai kerjasama ( teamwork ) dalam suatu team . B ekerjasama dengan team membuat mahasiswa banyak belajar bagaimana memecahkan masalah, memberikan ide dan gagasan, mempengaruhi orang lain, serta merealisasikan ide dan gagasan tersebut dengan baik. P emimpin masa depan dilahirkan dari pemuda masa k ini.   Pemimpin yang saat ini bekerja untuk rakyat tidak serta

Beasiswa Wardah untuk Mahasiswi Semester 3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beasiswa Wardah untuk Mahasiswi Semester 3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Hi, Inspiring Generation! Bagi Kamu mahasiswa S1/D4 yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan cita-cita agar siap hadapi dunia, Wardah mengajak Kamu untuk menjadi bagian dari Wardah Scholarship Program. Bersama Wardah, mari wujudkan mimpimu. Berikan dampak dan makna bagi orang-orang di sekitarmu.  Untuk informasi lebih lanjut kunjungi scholarship.wardahbeauty.com  Periode pendaftaran untuk UIN Jakarta dibuka pada 17 Oktober 2020 - 23 Oktober 2020 “Lanjutkan Cita-Cita, Siap Hadapi Dunia” "Program CSR Wardah di bidang pendidikan yang bertujuan mendukung perempuan Indonesia untuk melanjutkan cita-cita dan siap hadapi dunia." Tentang Wardah Scholarship Program Wardah, sebuah brand kecantikan yang berada di bawah naungan PT. Paragon Technology and Innovation. Perusahaan yang dirikan oleh seorang perempuan bernama Nurhayati Subakat pada tahun 1985 lalu. Perusahaan ini memiliki visi untuk memberikan kebe

Peran Pemuda Memajukan Literasi di Daerah 3T

Pendidikan merupakan proses pembelajaran yang menitikberatkan pada berkembangnya manusia dari yang tidak tahu menjadi tah u. D alam hal ini , pendidikan dapat diartikan juga sebagai proses memanusiakan manusia. Selain itu, pendidikan juga dapat didefinisikan sebagai usaha sadar untuk mencapai taraf hidup dan menumbuhkembangkan kualitas diri. Ki Hajar Dewantara menjelaskan , pendidikan termasuk tuntutan dalam hidup dan tumbuh kembang anak-anak. M aksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Mutu Pendidikan Indonesia Dalam konteks Indonesia , pendidikan masih ada dalam taraf berkembang. Bahkan , menurut laporan yang dirilis oleh International Student Assessment  (PISA) pada 2018 lalu, Indonesia berada di posisi "tertinggal" dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam . Memang , mutu pendidikan di Indonesia terbilan