Faktor Keberhasilan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

Menurut Henderson, pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Menempuh pendidikan merupakan suatu proses seseorang dalam menggapai cita-citanya karena dalam menempuh pendidikan seseorang dapat mengembangkan pola pikirnya menjadi lebih baik dan lebih maju. Kita sudah memasuki Era Industri 4.0 di mana teknologi berkembang dengan begitu pesat. Industri 4.0 atau revolusi industri keempat merupakan istilah yang umum digunakan untuk tingkatan perkembangan industri teknologi di dunia. Untuk tingkatan keempat ini, dunia memang fokus kepada teknologi-teknologi yang bersifat digital.

Gambaran Revolusi Industri 4.0 masih cukup kabur, dan sulit untuk memprediksi secara akurat apa yang akan terjadi. Seperti revolusi industri di masa lalu, Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan lapangan kerja baru dan menghilangkan beberapa yang sudah ada. Kegiatan sehari-hari termasuk pemantauan dapat dilakukan secara keseluruhan atau sebagian oleh mesin. Sebagai contoh, IBM Watson telah mengembangkan sistem pakar berbasis kecerdasan buatan yang dapat menggantikan pengacara junior. Sistem kecerdasan buatan yang dapat menggantikan perawatan kesehatan primer juga telah dikembangkan. Ini mungkin berarti bahwa lebih sedikit pekerjaan untuk profesional tingkat pemula di bidang ini, pekerjaan spesialis mungkin tetap ada (Haseeb, 2018).

Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak pula dampak negatif yang ditimbulkan, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Adapun beberapa faktor pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu pendidikan di Era 4.0. Maka dari itu, faktor-faktor ini perlu ditinjau dan diperhatikan lebih lanjut lagi. Berdasarkan uraian di atas, penyusun akan membahas mengenai beberapa faktor keberhasilan pendidikan di Era 4.0.

1.     Kompetensi Guru Abad 21

Di era Revolusi Industri 4.0 di abad 21, kemampuan mengajar guru sangat krusial. Destiana dan Utami (2017) menyatakan bahwa kemampuan mengajar memiliki Sembilan aspek penting, antara lain: (1) pembelajaran berbasis kompetensi; (2) penggunaan model pembelajaran yang sesuai; (3) penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): (4) pemahaman tentang landasan pendidikan; (5) Memahami karakteristik siswa; (6) Pengembangan alat penilaian: (7) Penggunaan bahan ajar kontekstual; (8) Menggunakan TIK di ruang kelas; (9) penyampaian materi pelajaran secara spesifik. Secara khusus, guru vokasional memainkan peran yang sangat penting dalam mentransformasikan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan siswa yang siap bekerja sesuai dengan kebutuhan revolusi industri 4.0.

Oleh karena itu, guru harus memiliki “karakter guru abad 21”, antara lain: Guru harus memiliki semangat belajar. Keinginan ini diperlukan karena pengetahuan, nilai, dan kondisi sosial dan psikologis masyarakat yang dinamis. Guru harus mampu mengembangkan bahan ajar yang efektif. Hal ini karena guru adalah komunikator dan harus mampu menyampaikan informasi secara efektif kepada orang lain, khususnya kepada siswa. Guru harus menguasai teknologi pendidikan. Hal ini penting karena perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi belajar sekarang hampir seluruhnya didasarkan pada kemajuan teknologi. Diharapkan para guru memiliki tingkat empati yang tinggi. Tidak hanya guru melaksanakan tugas mengajar, tetapi juga harus hubungan emosional yang bermutu dengan peserta didik dan warga sekolah lainnya. Guru dituntut untuk menjadikan dirinya orang yang layak diteladani oleh para peserta didik serta warga sekolah.

2.    Model Pembelajaran yang Relevan di Era Industri 4.0

Untuk memenuhi kebutuhan abad ke-21, UNESCO telah menetapkan empat pilar pendidikan: a. Learning to how; b. Learning to do; c. Learning to live together. Pengembangan Pendidikan Kompetensi Asosiasi Mitra Abad 21 merupakan kerangka pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan, kemampuan teknologi, media dan informasi, keterampilan belajar, inovasi dan keterampilan hidup. Menurut Hermawan (2006:44) kompetensi "Partnership 21st Century Learning" mengacu pada format pendidikan abad 21, yaitu: (a) Cyber (e-learning); pembelajaran dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan TIK. (b) Open and distance learning; Pembelajaran di abad 21 dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran jarak jauh yang tidak dibatasi dan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. (c) Quantum Learning; menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan gaya kerja. (d) Cooperative Learning; pembelajaran kelompok sebagai upaya kolaboratif. (e) Society Tecnology Science; integrasi konsep interdisipliner sains, teknologi, dan masalah sosial. (f) Accelerated Learning; menumbuhkan kemampuan untuk cepat menyerap dan memahami informasi, sehingga dapat meningkatkan keterampilan belajar yang lebih efektif.

Dua poin di atas hanya merupukan segelintir faktor keberhasilan Pendidikan di era revolusi industry 4.0. Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus bangsa, harus lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi yang berkembang.

Penulis : Ifah Faiqoh | Cover : Farhan Achmad FajariYoga Pratama

REFERENSI

https://graduate.binus.ac.id/2021/03/01/teknologi-digital-sebagai-kunci-utama-pada-era-industri-4-0/

Sadulloh, Uyoh. 2011. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Simarta, Janner, dkk. 2020. Pendidikan di Era Revolusi 4.0: Tuntutan, Kompetensi dan Tantangan. Yayasan Kita Menulis.

Widaningsih, Ida. 2019. Strategi dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.

CONVERSATION